Total Tayangan Laman

Sabtu, 26 November 2011

Tari Pendet


Sejarah Tari Pendet


Penari pendet memegang bokor tempat bunga yang akan ditaburkan.
Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (1967).
Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.
Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.



PESONA TARI PENDET

Tari Pendet merupakan salah satu dari sekian banyak aset kebudayaan Indonesia khususnya Bali dalam hal tari-tarian. Pencipta/koreografer bentuk modern tari pendet adalah I Wayan Rindi.Pada awalnya tari pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura-pura (tempat ibadat umat Hindu) di Bali. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.m
Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.

Belakangan sempat terjadi claim malaysia atas tarian pendet yang dicantumkan dalam iklan visit year mereka. Pada kenyataan yang ada Tari Pendet merupakan kebudayaan asli dan khas Bali/Indonesia. Jaga dan lestarikan lah kebudayaan bangsa kita. Generasi muda janganlah pernah malu untuk menggaungkan budaya asli milik kita. Jadilah Generasi yang Sadar Budaya. Kalo bukan kita siapa lg...??? Jangan kita tersentak setelah terusik dan terlena akan semua yang ada
.

Ø JENIS DAN PERAN TARI PENDET

Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an
yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.
Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental. Dan tari pendet disepakati lahir pada tahun 1950.
  • Tari Pendet Sakral
Biasanya Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.
Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Wayan Dibia, menegaskan bahwa menarikan tari Pendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.
Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok remaja putri, masing-masing membawa mangkuk perak (bokor) yang penuh berisi bunga. Pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang. Tarian ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu atau memulai suatu pertunjukkan (1999: 47).
Pencipta atau koreografer bentuk modern tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi (?-1967), merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya.
Menurut anak bungsunya, I Ketut Sutapa, I Wayan Rindi memodifikasi Tari Pendet sakral menjadi Tari Pendet penyambutan yang kini diklaim Malaysia sebagai bagian dari budayanya. Keluarga I Wayan Rindi sangat menyesalkan hal ini. Semasa hidupnya I Wayan Rindi tak pernah berpikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain.
  • Tari Pendet Penyambutan
Di samping belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah dipatenkan karena mengandung nilai spiritual yang luas dan tak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu. Dalam hal ini, I Ketut Sutapa, dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali mengharapkan pemerintah mulai bertindak untuk menyelamatkan warisan budaya nasional dari tangan jahil negara lain.
Menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan sejarah seharusnya lebih proporsional dari pendekatan ilmu pengetahuan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), karena HAKI adalah produk budaya barat yang baru eksis kemudian. HAKI tidak cukup layak mengamankan produk-produk budaya sebelum HAKI didirikan, apa lagi pemanfaatannya lebih berorientasi kolektifitas, bukan individualitas seperti paham budaya barat.
HAKI tidak akan sepenuhnya dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat beradab dan bermartabat. HAKI diarahkan untuk kepentingan ekonomis, sedangkan produk-produk budaya Indonesia lebih berorientasi kepentingan sosial

Ø   PERAN ATAU FUNGSI TARI PENDET
Pada jaman dahulu tari Pendet merupakan tarian Pura yang fungsinya untuk memuja para dewa-dewi yang berdiam di Pura selama upacara odalan berlangsung (Kusmayati dkk ,2003:78). Seiring dengan perkembangan jaman,kebutuhan akan hiburan semakin banyak diperlukan oleh sebagian besar masyarakat Bali, sehingga sekarang Pendet beralih fungsi menjadi tari hiburan atau tari penyambutan. Sebaga tari penyambutan, Pendet difungsikan untuk menyabut kedatangan tamu atau sering disebut dengan istilah tarian selamat datang. Ungkapan kegembira an, kebahagiaan, dan rasa syukur diwujudkan melalui gerak-gerak yang lembut dan indah.
Ø  PERKEMBANGAN TARI PENDET


Perkembangan pertunjukan tari di Bali dari masa lampau sampai pada era globalisasi ini sangatiah berarti bagi eksistensi sebuah kesenian Bali. Perkembangan tersebut merupakan wujud dari kreatifitas seniman Bali. Wujud kreatifitas dituangkan melalui ide-ide baru sehingga menghasilkan karya seni lama yang bernuansa baru. Karya seni lama yang dimunculkan dalam bentuk koreografi baru di-harapkan masih tetap menarik, sehingga dapat mem-pengaruhi jiwa penonton dan penikmat seni lainnya. Munculnya ide-ide dari para seniman disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah adanya perubahan di bidang politik dan ekonomi. Perubahan bidang politik dan ekonomi dapat mempengaruhi ter-jadinya perubahan selera masyarakat penikmatnya. Perubahan juga sangat mungkin disebabkan oleh keberadaan seni tari yang tidak mampu lagi bersaing dengan seni pertunjukan lain. Akibat dari hadirnya era globalisasi, para seniman memiliki ke bebasan untuk menampilkan gaya yang mereka inginkan. Akibatnya, timbulah semacam arus perkembangan seni yang lazim kila sebut sebagai Multikulturalisme ( Multiculturalism ) atau pluralisme, yang menghargai karya seni dengan gaya apapun dan dari negara manapun. Seni istana sudah tidak menjadi kiblat, demikian pula Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 170 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI aliran-aliran seni dari mancanegara. Dalam bidang seni pertunjukan, setiap kelompok etnis di Indonesia ingin menampilkan jati diri mereka (Soedarsono, 2002:112) Pendet merupakan salah satu contoh bentuk seni pertunjukan yang telah mengalami perkemba-ngan dalam dua dekade. Perkembangan ditandai dengan munculnya kembali tarian Pendet baru yang memiliki bentuk, isi, dan tata penyajian serta fungsi yang berbeda dengan tarian Pendet pada waktu sebelumnya. Tari Pendet baru disajikan dalam bentuk, isi, dan struktur penyajian yang terpola. Unsur-unsur seni yang terkandung dalam tari seperti : musik, gerak, pola lantai, level, ruang, dan waktu diatur dengan sebuah tatanan yang terstruktur, sehingga dapat memunculkan sebuah sajian tari yang menarik.



Ø UNSUR ESTETIS TARI PENDET
v  TATA BUSANA TARI PENDET
Perkembangan busana memberi kan ciri khas bahwa tari Pendet Balih-balihan merupakan tarian hiburan atau tarian ucapan selamat datang. Busana di buat semenarik mungkin agar dapat memikat daya tarik penonton. Perubahan tata busana terlihat pada penggunaan tapih berornamen bunbunan ( daun dan bunga-bungaan), kamen prada dengan jenis patra sari, sabuk prada ornamen bun-bunan atau kekngan tebu, serta selendang prada dengan motif patra sari. Pusung Gonjer adalah sanggul yang dipakai oleh penari wanita belum bersuami ( anak-anak dan remaja). Sanggul ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian pertama di beri nama batupusungan yaitu pangkal sanggul yang berbentuk lingkaran letaknya di tengah pada bagian belakang kepala, sedangkan gonjeran adalah sisa rambut yang ditata menjuntai kebawah sampai batas bawah payudara ( dalam Diktat buku ajar SMKK,TT:9-10 ). Sama halnya dengan pusung gonjer, pada pusung tagel jugamemiliki dua bagian sanggul. Bagian pertama disebut batu pusungan dan bagian kedua disebut dengan tagelan yaitu sisa rambut yang diikatkan kembali pada bagian batu pusungan sehingga membentuk lengkungan. Pemakaian pusung tagel dan pusung gonjer mengalami per-kembangan seiring dengan perkembangan jaman. Tidak ada lagi perbedaan dalam pemakaian pusung atau sanggul pada penari anak-anak, remaja, maupun dewasa, semuanya memiliki kebebasan sesuai dengan selera masing-masing. Bahkan sekarang muncul sanggul dengan model baru yang banyak dikenakan penari Pendet yaitu sanggul angka delapan. Hiasan sanggul berupa tiga macam bunga, yaitu bunga jepun (kamboja), bunga mawar (mawa ), dan bunga mas terdiri dari bunga sandat dan bunga semanggi. Masing- masing disusun pada tata aturan yang berbeda, yaitu sebagai berikut:
l).Bunga jepun atau bunga kamboja diletakkan di sepanjang pusungan dan tagelan, juga pada kepala bagian belakang sunggaran letaknya Volume VIII No.2 / Mei-Agustus 2007 174 HARMONIA JURNAL PENGETAHUAN DAN PEMIKIRAN SENI melengkung dari atas telinga kiri menuju atas telinga kanan.
2).Bunga mawar diletakkan di tengah kepala bagian atas tepat di belakang susunan bunga jepun.
3).Bunga ' sandat disususn di separtjang susunan bunga jepun, tepatnya di belakang bunga mawar dan bunga jepun.
4).Bunga semanggi diletakkan menjuntai ke bawah dengan cara menyelipkan tangkainya pada batu pusungan, tepatnya di belakang susunan bunga sandat. Lebih lanjut, kedua jenis sanggul ini berkembang menjadi sanggul angka delapan,dengan aksesoris sama dengan yang dipakai pada model-model sanggul sebelumnya.

v  TATA RIAS TARI PENDET
Tata rias wajah pada tari Pendet Balih-balihan sudah mengalami kemajuan,hal ini terlihat pada penggunaan alat kosmetik berupa bedak , lipstik , pensil alis dan alat rias lainnya sebagai wujud kongkrit dari peru-bahan fungsi tari Pendet Wali menjadi Pendet Balih-balihan yang selalu mengutamakan keindahan gerak dan keindahan tampilan wajah.


v  IRINGAN MUSIK TARI PENDET
Iringan pada tari Pendet dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian awal disebut sebagai pengantar singkat (papeson) digarap dengan tempo yang cepat, bagian tengah atau pengadeg diiringi musik dengan tempo lambat dan sedang, dan pada bagian akhir (panyuwud) diiringi musik dengan tempo cepat. diiringi oleh gamelan berlaras pelog atau gamelan gong kebyar dan angklung.


v  PROPERTY TARI PENDET
Penggunaan property bokor sloko mutlak dipakai. Pada pinggiran bokor dihiasi dengan ornamen berupa janur (daun kelapa yang masih muda dan berwarna kuning). Ornamen janur bisa dihias sesuai dengan motif potongan janur yang sesuai dengan selera penggunanya. Ada yang menghias bagian tengah janur dengan potongan bermotif kotak, ada pula yang memilih motif irisan berbentuk belah ketupat atau gabungan dari kedua motif tersebut.

                             
Ø KOMPOSISI DAN GERAKAN DASAR TARI PENDET
Susunan gerakan dasar tari Pendet diurutkan sebagai berikut :
Ø Ngumbang luk penyalin, berjalan ke muka belok kanan kiri dan ngentrag.
Ø Duduk bersimpuh mengambil bunga lalu menyembah dengan manganjali.
Ø Leher ngilek ke samping kanan seraya nyeledet (gerakan ini dilakukan 3x berturut-turut).
Ø Ngagem kanan disertai luk nerudut dan nyeledet ke kiri.
Ø Ngenjet gerak peralihan untuk perpindah dan menjadi agem kanan.
Ø Ngotag pinggang bertukar tempat dari kanan ke kiri dan sebaliknya.
Ø Ngelung rebah ke kiri dan kanan yang disertai dengan angumad tarik kanan dan kiri.
Ø Ngumbang ombak segera berjalan belok ke belakang dan ke muka.
Ø Nyeregseg ngider berputar ke kanan dan kiri berturut-turut sampai 2 atau 3 kali.
Ø Ngelung kiri kanan beserta nyeledet kiri kanan lalu beranjak 2 terus berjalan.
Ø Ngentrag berjalan cepat terus ngeseh dan menabur bunga sambil berjalan ngumbang luk   penyalin.
Ø Metanjek ngandang berputar ke kiri dan ditutup dengan gerka nyakup bawa.
Jika dibagi menurut gerakan dasarnya, dibagi menjadi beberapa macam yakni :
Ngumbang luk penyalin.
ü Leher ngilek.
ü Nyeledet.
ü Agem kanan.
ü Luk nerusut.
ü Agem kiri.
ü Ngumbang ombak.

Ø KEUNIKAN TARI PENDET

Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, sebuah tempat ibadat bagi umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Tarian ini diciptakan oleh I Wayan Rindi. Rindi merupakan maestro tari yang dikenal luas sebagai penggubah tari pendet sakral yang bisa di pentaskan di pura setiap upacara keagamaan. Tari pendet juga bisa berfungsi sebagai tari penyambutan. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi “tarian ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.
Wayan Rindi adalah penekun seni tari yang dikenal karena kemampuannya menggubah tari dan melestarikan seni melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Salah satunya terekam dalam beragam foto semasa hidupnya yang aktif mengajarkan beragam tari Bali, termasuk tari pendet pada keturunan keluarga maupun di luar lingkungan keluarganya. Menurut anak bungsunya, Ketut Sutapa, Wayan Rindi memodifikasi tari pendet sakral menjadi tari  pendet penyambutan yang kini diklaim Malaysia. Rindi menciptakan tari pendet ini sekitar tahun 1950.  Meski dimodifikasi, namun semua busana dan unsur gerakan tarinya tetap mengacu pada pakem seni Bali yang dikenal khas dan dinamis.

Diyakini bahwa tari Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.
 Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.
Tindakan Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian dari budayanya amat disesalkan keluarga Wayan Rindi. Pada masa hidupnya, Wayan Rindi memang tak berfikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain. Selain belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah di patenkan karena kandungan nilai spiritualnya yang luas dan tidak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu. Namun dengan adanya kasus ini, Sutapa yang juga dosen tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali berharap pemerintah mulai mengambil langkah untuk menyelamatkan warisan budaya nasional dari tangan jahil negara lain.

1 komentar:

  1. Maaf, saya mau mengoreksi,gambar yang dipasang itu bukan tari pendet, tapi tari Sekar Jagat

    BalasHapus